dalam Kehidupan

Kamu punya calon istri, sebut juga Bunga. Kamu adalah orang kaya raya, tajir melintir. Sedangkan Bunga dari keluarga orang biasa, marjinal.

Suatu ketika kamu mengutarakan rasa cinta dan sayangmu ke Bunga. Namun dia berfikir panjang, tak lama kemudian, dia menjawab dan mengiyakan ajakan anda untuk menikah.

Tak lama setelah menikah, anda memergoki Bunga tidak benar-benar mencintai anda, dia hanya mengincar harta anda.

Apakah anda marah ?

Mungkin,

Apakah anda sedih ?

Pasti,

Tapi tidak jika kamu benar-benar mencintai Bunga, kamu akan tetap mengejar dan menunggu hatinya benar-benar luluh dan total mencintai anda apa adanya (bukan hanya karena harta).

Ya, benar, secuil analogi diatas itu mirip apa yang dirasakan oleh Tuhan (diluar konteks “Tuhan tidak sama dengan makhluk-Nya”).

Itulah menurut pandangan saya saat ini ketika kita bicara kemurnian tauhid, yaitu kita sebagai makhluk harus benar-benar merasa membutuhkan Allah. Dan mencintai-Nya dalam detik demi detik kehidupan kita.

Jika surga dan neraka tak pernah ada, Masihkah kau bersujud kepada-Nya? (Chrisye)

Maka itulah dalam inti dari Semua kitab (Alfatihah ayat 5) Allah tidak membicarakan Surga dan Neraka, tapi Allah membicarakan Iyya Kana’budu, Wa Iyya kanasta’in.

That’s the core value of our short-life in this world.

Leave a Reply

Komentar

Komentar

avatar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

  Subscribe  
Notify of
  • Konten Terkait dengan Tag