Obat dari Segala Kekecewaan : Mungkin Tujuan Kita yang Keliru

Beberapa waktu lalu saya mendapat wejangan dengan salah satu guru saya hafidzahullah dalam sebuah kajian beliau. Beliau menyampaikan satu kalimat (sedikit saya parafrase) yang awalnya terdengar sederhana, tetapi semakin saya renungkan, semakin terasa bahwa kalimat ini mampu mengubah cara pandang seseorang terhadap hidup.

“Obat dari banyak kekecewaan, kesedihan, dan kecemasan adalah membetulkan tujuan.”

Awalnya saya berpikir, “Masa sesederhana itu?”

Namun setelah direnungkan, saya justru menemukan bahwa hampir semua kekecewaan & kesedihan yang pernah saya alami ternyata berawal dari satu hal yang sama: tujuan yang saya tetapkan berada pada sesuatu yang tidak sepenuhnya bisa saya kendalikan.

Misalnya, ketika saya ingin bisnis berkembang. Saya bekerja keras, belajar, menyusun strategi, memperbaiki produk, memasang iklan, merekrut tim terbaik. Tetapi ketika hasilnya tidak sesuai harapan, hati langsung kecewa.

Padahal, bukankah saya sudah berusaha?

Lalu saya mulai bertanya kepada diri sendiri, “Sebenarnya apa tujuan saya?”

Kalau tujuan saya adalah omzet sekian miliar, maka selama angka itu belum tercapai, saya akan terus merasa gagal.

Kalau tujuan saya adalah dipuji sebagai ayah yang hebat, maka setiap kali anak melakukan kesalahan, saya akan merasa gagal.

Kalau tujuan saya adalah dikenal sebagai leader yang baik, maka ketika tim sedikit atau speaking kurang diapresiasi, hati saya akan gelisah.

Artinya, selama tujuan saya berada pada hasil, maka kebahagiaan saya akan selalu bergantung pada sesuatu yang tidak berada di tangan saya.

Di situlah guru saya mengatakan sesuatu yang benar-benar mengubah perspektif saya.

“Kalau tujuanmu adalah mencari ridha Allah, maka hasil apa pun tidak bisa merampas keberhasilanmu.”

Kalimat itu membuat saya diam cukup lama.

Karena saya sadar, selama ini saya sering mencampuradukkan antara tujuan dan hasil.

Padahal keduanya berbeda.

Tujuan adalah sesuatu yang kita pilih.

Sedangkan hasil adalah sesuatu yang Allah tentukan.

Sebuah Analogi

Coba bayangkan seseorang yang sedang naik mobil menuju Monas.

Di tengah perjalanan ternyata macet total.

Apakah berarti ia gagal?

Belum tentu.

Kalau tujuan utamanya adalah sampai ke Monas, maka kemacetan hanyalah bagian dari perjalanan.

Tetapi kalau tujuan utamanya adalah harus sampai dalam 15 menit, maka sejak macet dimulai, ia sudah kehilangan ketenangan.

Hidup kita pun demikian.

Ridha Allah adalah tujuan.

Sedangkan sehat, kaya, omzet naik, anak berprestasi, bisnis berkembang, jabatan, penghargaan, semuanya hanyalah kondisi perjalanan.

Masalahnya, kita sering menukar keduanya.

Kita menjadikan “kondisi perjalanan” sebagai tujuan hidup.

Akibatnya, hati menjadi sangat rapuh!

Allah sebenarnya sudah menjelaskan tujuan penciptaan manusia dengan sangat jelas.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
(QS. Adz-Dzariyat: 56)

Perhatikan ayat ini.

Allah tidak mengatakan,

“…agar kalian sukses.”

“…agar kalian kaya.”

“…agar kalian menjadi orang yang paling berpengaruh.”

Tidak.

Allah mengatakan bahwa tujuan penciptaan kita adalah beribadah, yaitu menghamba kepada-Nya.

Kalau begitu, bukankah seharusnya tujuan seluruh aktivitas kita juga kembali kepada sana?

Belajar karena Allah.

Bekerja karena Allah.

Mendidik anak karena Allah.

Berolahraga agar tubuh kuat beribadah kepada Allah.

Mencari nafkah agar keluarga terjaga karena Allah.

Semuanya kembali kepada satu titik yang sama.

Ridha Allah.

Another Perspective

Di dunia psikologi ada konsep yang cukup menarik, yaitu locus of control.

Secara sederhana, konsep ini menjelaskan bahwa kesehatan mental seseorang sangat dipengaruhi oleh apakah ia menggantungkan hidupnya pada sesuatu yang bisa ia kendalikan atau sesuatu yang berada di luar kendalinya.

Semakin seseorang menggantungkan kebahagiaannya pada hal-hal eksternal = penilaian orang lain, kondisi ekonomi, pujian, jabatan, keberhasilan, dll. Maka ia akan semakin mudah mengalami stres dan kecemasan.

Sebaliknya, ketika seseorang berfokus pada apa yang memang berada dalam kendalinya, ia cenderung lebih tenang.

Namun Islam membawa konsep ini jauh lebih tinggi.

Bahkan niat dan ikhtiar kita pun akhirnya dikembalikan kepada Allah.

Kita hanya diminta memperbaiki apa yang berada dalam kemampuan kita.

Sedangkan hasilnya adalah wilayah Allah.

Itulah mengapa seorang mukmin bisa tetap tenang meskipun hasilnya belum sesuai harapan 🙂

Begitu pula kehidupan.

Dalam pandangan dunia, keberhasilan sering diukur dari hasil akhir.

Tetapi dalam Islam, Allah juga melihat niat, usaha, kesabaran, kejujuran, tawakal, dan keikhlasan.

Semua itu bernilai, bahkan ketika hasil dunia belum sesuai harapan.

Rasulullah ﷺ mengajarkan prinsip yang sangat indah.

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ، وَلَا تَعْجِزْ

“Bersemangatlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan merasa lemah.”

Kemudian beliau melanjutkan,

وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ

“Jika sesuatu menimpamu, janganlah berkata, ‘Seandainya aku melakukan ini, tentu hasilnya akan begini.’ Tetapi katakanlah, ‘Ini adalah takdir Allah, dan apa yang Dia kehendaki pasti terjadi.'”

(HR. Sahih Muslim no. 2664)

Perhatikan urutannya.

Berusaha.

Minta pertolongan Allah.

Jangan menyerah.

Lalu ridha terhadap hasil.

Bukan pasrah sejak awal.

Bukan pula stres terhadap hasil.

Tetapi berikhtiar sepenuh hati, lalu menyerahkan akhirnya kepada Allah.

Closing

Mungkin selama ini kita berpikir,

“Kalau bisnis gagal, saya gagal.”

“Kalau anak / murid tidak sesuai harapan, saya gagal.”

“Kalau investasi turun, saya gagal.”

“Kalau tidak bisa mencapai target x dalam waktu y, saya gagal”

Padahal bisa jadi tidak.

Kalau dalam seluruh proses itu Allah ridha kepada kita, apakah benar kita gagal?

Atau justru kita sedang berhasil pada tujuan yang paling besar?

Menurut saya, bagian yang paling “mindblowing” dari semua ini adalah satu kesadaran sederhana.

Kalau tujuan hidup saya adalah ridha Allah, maka saya sebenarnya sudah “berhasil” setiap hari.

Hari ini saya bekerja dengan jujur.

Berhasil.

Hari ini saya menahan emosi kepada anak.

Berhasil.

Hari ini saya shalat dengan lebih khusyuk.

Berhasil.

Hari ini saya menerima takdir Allah dengan lapang.

Berhasil.

Bahkan ketika proposal ditolak, bisnis sedang turun, atau rencana tidak berjalan sesuai harapan, saya tetap bisa berkata,

“Ya Allah, hasilnya memang bukan seperti yang saya inginkan. Tetapi semoga Engkau menerima ikhtiar ini sebagai bentuk penghambaan kepada-Mu.”

Dan bukankah memang itulah tujuan kita diciptakan?

Mungkin di situlah letak rahasia ketenangan yang selama ini saya cari.

Bukan karena hidup menjadi lebih mudah.

Tetapi karena tujuan hidup akhirnya kembali ke tempat yang benar.

Ketika tujuan kita adalah Allah, maka tidak ada satu pun kegagalan dunia yang mampu benar-benar membuat kita gagal. Sebab keberhasilan terbesar bukanlah ketika semua rencana berjalan sesuai keinginan kita, melainkan ketika Allah meridhai setiap langkah yang kita tempuh menuju-Nya.

5 1 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x