Jihad Sepanjang Hayat : Mengontrol Emosi

Saya dulu berpikir bahwa orang sukses itu pasti jago suppress their emotions.

Karena rasanya disiplin itu mustahil kalau kita selalu mengikuti perasaan.

Malas olahraga → tetap olahraga.
Malas kerja → tetap kerja.
Marah → tetap tahan diri.
Takut → tetap maju.

Berarti orang disiplin adalah orang yang jago menekan emosinya, kan?

Ternyata setelah saya pelajari lagi, not exactly.

Ada perbedaan yang kelihatannya tipis, tapi menurut saya fundamental:

Suppressing our emotion vs not obeying our emotion.

Bayangkan kita sedang nyetir mobil.

Emosi itu seperti penumpang.

Kadang dia teriak:

“Males banget!”
“Marah aku!”
“Udahlah, besok aja!”
“Balas aja omongannya!”

Kita tidak perlu mengusir penumpangnya.

Biarkan dia duduk di sana.

Yang penting: jangan kasih setirnya.

Emotion is information, not instruction

Dalam psikologi ada konsep emotion regulation.

James Gross, salah satu peneliti utama di bidang ini, membedakan berbagai cara manusia mengelola emosinya. Salah satunya expressive suppression: kita berusaha menghambat ekspresi emosi yang sudah muncul.

Riset Gross & John (2003) menemukan bahwa kebiasaan menggunakan suppression berkaitan dengan emosi positif dan kesejahteraan yang lebih rendah serta fungsi interpersonal yang lebih buruk.

Ada juga penelitian menarik dari Lieberman dkk. (2007) tentang affect labeling.

Sederhananya: ketika kita memberi nama pada apa yang sedang kita rasakan :

“Oh, saya sedang marah.”

Proses tersebut berkaitan dengan perubahan aktivitas pada sistem otak yang memproses respons emosional.

Jadi ternyata menyadari dan memberi nama pada emosi bukan sekadar bahasa self-help.

Ada basis ilmiahnya.

Akhirnya saya mendapatkan framework yang menurut saya sangat simpel:

FEEL & LABEL → ISTIGHFAR → ACT

Contoh paling gampang.

Jam menunjukkan waktunya olahraga.

Tapi:

“Wah, males banget hari ini.”

Feel it.

Tidak perlu pura-pura semangat.

“Okay. I’m feeling lazy right now.”

Label it.

Lalu ISTIGHFAR, kemudian ACT dengan mengajukan satu pertanyaan:

“What does Allah want from me right now?”

Kalau jawabannya memang olahraga adalah pilihan yang lebih baik dan bagian dari amanah menjaga tubuh:

Just do it.

Menariknya, kita tidak perlu menunggu rasa malas itu hilang.

I can feel lazy and exercise at the same time.

Islam ternyata mengajarkan prinsip yang sangat mirip

Allah berfirman:

“Dan adapun orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sungguh surgalah tempat tinggalnya.”

(QS. An-Nazi’at: 40–41)

Bukan berarti hawa itu tidak muncul.

Keinginan tetap ada.

Yang menjadi ujian justru:

Who is in control?

Rasulullah ﷺ juga bersabda bahwa orang kuat bukanlah orang yang menang bergulat, tetapi orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.

Again.

Bukan “orang yang tidak pernah marah.”

Tetapi orang yang ketika marah tetap mampu mengendalikan dirinya.

Marahnya ada.

Setirnya tidak diberikan kepada kemarahan.

Dan ini membawa saya kembali kepada definisi ibadah dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah:

“Ibadah adalah nama yang mencakup segala sesuatu yang Allah cintai dan ridhai, berupa perkataan dan perbuatan, yang lahir maupun batin.”

Maka mungkin salah satu pertanyaan paling powerful dalam keseharian bukan:

“What do I feel like doing right now?”

Tetapi:

“What does Allah want from me right now?”

Lagi malas kerja?

Feel it. Label it. Istighfar. Then do what Allah wants.

Lagi tersinggung dengan perkataan pasangan?

Feel it. Label it. Istighfar. Then do what Allah wants.

Lagi ingin terlihat hebat di depan orang lain?

Feel it. Label it. Istighfar. Then do what Allah wants.

Lagi takut mengambil keputusan yang benar?

Feel it. Label it. Istighfar. Then do what Allah wants.

Saya akhirnya sadar:

Discipline is not the ability to stop feeling.

Discipline is the ability to feel something without automatically obeying it.

Kita tidak harus memenangkan peperangan melawan semua perasaan yang muncul.

Biarkan emosi menjadi passenger.

Tapi jangan biarkan dia menjadi driver.

Karena bagi seorang mukmin, arah perjalanan seharusnya bukan ditentukan oleh “what I feel”, tetapi oleh:

“What does Allah want from me right now?”


Referensi:

Gross, J. J., & John, O. P. (2003). Individual Differences in Two Emotion Regulation Processes: Implications for Affect, Relationships, and Well-Being. Journal of Personality and Social Psychology, 85(2), 348–362.

Lieberman, M. D., et al. (2007). Putting Feelings Into Words: Affect Labeling Disrupts Amygdala Activity in Response to Affective Stimuli. Psychological Science, 18(5), 421–428.

5 1 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x