dalam Ekonomi, Kehidupan

Kemarin baru beli Cooker Hood (penghisap asap kompor) dan menemukan lembar petunjuk dan lembaran kartu garansi.

Sekejap saya bilang Istri

“Tolong kartu garansi nya disimpan di lemari ya”

Kemudian seketika diri ini bertanya,

“Sampai kapan kita akan terus menyimpan kartu-kartu garansi tersebut?” (karena dalam lemari terdapat banyak sekali kartu garansi)

Teringat juga pengalaman yang tidak mengenakkan ketika beli kasur di Informa, dan ternyata kasur tersebut terdapat cacat. Dan kami melihat kasur tersebut masih dalam masa garansi.

Tapi, setelah kita telepon pihak Informa, mereka bilang, kalau mau claim WAJIB bawa kartu garansi.

Akhirnya kita mencari kartu garansi tersebut ke tiap sudut isi rumah, dan hasilnya pun nihil.

Kami akhirnya bernegosiasi, tapi pihak informa tak bergeming, dan tetap mewajibkan kita untuk bawa kartu garansi.

Akhirnya?

Ya kita batal men-servis kasur tersebut. Karena jika tidak pakai kartu garansi, harga servisnya tidak masuk akal.

Mungkin anda sering kali mengalami kejadian seperti ini.

Entah itu produk home appliance, elektronik, dan lainnya.

Pertanyaan dalam benak ini cuma 1 (satu)

“Kenapa mereka tidak meniru perusahaan-perusahaan yang mempunyai Customer Experience sempurna seperti Apple dalam pelayanan After-Sales nya atau klaim garansi?”

Yang tidak perlu kartu garansi, struk / kwitansi pembelian atau yang lain.

Padahal hanya modal database customer dan ID item / produk saja + tanggal pembelian.

It’s very simple.

Digital Data Warranty is a must.


Wallahu A’lam

Baarakallahufiikum.

0 0 vote
Article Rating

Komentar

Komentar

Subscribe
Notify of
guest

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments